Informasi Terkini

KEUTAMAAN SABAR DALAM ISLAM


"KEUTAMAAN SABAR DALAM ISLAM"


Seorang mukmin yang sabar tidak akan berkeluh kesah dalam menghadapi segala kesusahan yang menimpanya serta tidak akan menjadi lemah atau jatuh gara-gara musibah dan bencana yang menderanya. Allah SWT. telah mewasiatkan .kesabaran kepadanya serta mengajari bahwa apa pun yang menimpanya pada kehidupan dunia hanyalah merupakan cobaan dari-Nya supaya diketahui orang-orang yang bersabar

Salah satu teori kesehatan yang sangat terkenal baik di Barat maupun di Timur adalah bahwa sakit tidak melulu disebakan oleh lemahnya fisik tetapi bisa juga disebabkan oleh kondisi kejiwaan yang lemah. Teori ini dikemukakan oleh seorang ulama terkenal sekaligus seorang ahli di bidang kedokteran kelahiran Bukhara Uzbekistan tahun 980 M. Tokoh itu bernama Abu Ê¿Ali al-Ḥusayn ibn Ê¿Abdillah ibn Sina atau lebih dikenal dengan Ibnu Sina dengan digelari Bapak Kedokteran. Di dunia Barat beliau dikenal dengan nama Avicenna.  

Teori Ibnu Sina tersebut setidaknya memberikan keseimbangan terhadap teori yang telah mapan sebelumnya, yakni bahwa kesehatan jiwa bergantung pada kesehatan badan. Dalam bahasa Latin teori ini berbunyi: Mens sana in corpore sano, artinya: “Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.”

Dalam kaitan ini Ibnu Sina menganjurkan 3 tips menjaga diri agar tetap sehat jasmani rohani atau segera sembuh dari sakit sebagaimana dikutip oleh Musthofa Husni dalam kitabnya berjudul ‘Isy Allahzah (Athlas lin Nashri wal Intaji wal I’lamiy , 2015, Cet.I, hal. 161) sebagai berikut:  

1.  (Kepanikan adalah separuh penyakit)  

Secara umum panik dipahami sebagai sebuah serangan yang muncul tiba-tiba akibat rasa takut yang luar biasa. Rasa takut itu sendiri bisa muncul karena ada bahaya yang nyata-nyata mengancam atau hanya karena berpikir terlalu buruk dan tidak rasional alias mengkahayal. Ibnu Sina menasihati agar kita tidak mudah panik dalam situasi apapun baik aman maupun bahaya sebab panik itu sendiri merupakan bagian masalah kejiwaan yang bisa berdampak langsung pada munculnya penyakit fisik seperti serangan jantung, hipertensi dan sebagainya.  

Di saat krisis seperti ini karena adanya ancaman pandemi virus Corona yang mewabah ke seluruh penjuru dunia, sikap menjaga diri agar tidak panik perlu dilakukan dengan berbagai pendekatan seperti pendekatan teologis dan pendekatan ilmiah rasional. Agama mengajarkan bahwa kapan seseorang mati telah ditetapkan oleh Allah jauh sebelum kelahirannya ke dunia. Hal ini harus menjadi keyakinan setiap Muslim sehingga betapapun dahsyatnya ancaman virus Corona tidak akan mengancam nyawa seseorang jika memang Allah belum menghendakinya mati. Secara aqidah memang harus demikian, tetapi Islam tidak hanya mengenai Aqidah. Islam juga mengenai Syariah dimana setiap Muslim berkewajiban berikhtiar dengan mengambil sikap hati-hati dalam mengahadapi sesuatu yang membahayakan nyawa.

Pendekatan ilmiah rasional juga harus ditempuh, yakni jika pola hidup sehat dan semua protokol kesehatan dalam menghadapi virus Corona telah kita tempuh dengan baik kita harus berpikir positif bahwa Allah subhanu wata’ala akan melindungi kita. Berpikir positif ini juga akan menjauhkan kita dari rasa panik meskipun mendengar atau membaca sendiri berbagai berita menakutkan baik di media mainstream maupun media sosial tentang ganasnya wabah virus Corona yang hingga kini telah merenggut nyawa lebih dari 48.000 orang di seluruh dunia. Di Indonesia saja telah lebih dari 157 orang meninggal dunia.  

2. (Ketenangan adalah separuh obat)  

Ibnu Sina menekankan perlunya orang memiliki ketenangan baik dalam keadaan sakit maupun sehat. Dalam keadaan sehat orang yang memiliki ketenangan jiwa tidak mudah terserang oleh berbagai-penyakit jasmani dan rohani sebab ketenangan itu sendiri merupakan benteng sehingga memiliki imunitas yang kuat. Ketengangan akan mudah dicapai juga melalui berbagai pendekatan, yakni pendekatan teologis dan pendekatan ilmiah rasional. Al-Quran mengingatkan pentingnya berdzikir kepada Allah sebab senantiasa mengingat Allah akan menghasilkan ketenangan batin yang kokoh sebagaiamana firman Allah berikut ini  

Artinya: Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang. (QS Ar-Ra’d: 28)  

Selalu mengingat Allah termasuk dalam wilayah akhlak kepada Allah. Seorang hamba yang salih senantiasa mengingat Tuhannya dan Tuhan pun akan membalas dengan selalu mengigat sang hamba. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam hadits qudsi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah sebagai berikut:  

Artinya, “Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.’” 

HR. Bukhari dan Muslim).  

Jadi, seorang hamba yang senantiasa mengigat Allah dalam arti yang sebenarnya tentulah memiliki ketenangan yang luar bisa sebab begitu dekatnya hubungan dia dengan Allah sehingga ia meyakini Allah senantiasa membersamainya baik dalam keadaan sedirian maupun bersama orang lain. Ketenangan ini sudah merupakan separuh obat yang dia butuhkan ketika dia benar-benar sakit karena Allah sedang menghendakinya demikian. Dengan kata lain orang yang memiliki ketenangan batin karena kedekatannya dengan Allah akan lebih cepat sembuh dari sakitnya dari pada orang yang selalu resah gelisah dan gundah karena tidak memiliki akhlak yang baik kepada Allah, yakni tidak pernah berdzikir kepada-Nya.  

3. (Kesabaran adalah awal dari kesembuhan).     

Kesabaran itu ibarat jamu yang rasanya pahit tetapi hasil dari kesabaran adalah manis. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam pepatah Arab yang berbunyi:

Artinya: “Sabar itu seperti obat pahit yang tidak enak rasanya, tetapi hasilnya indah.”  

Orang sabar tentu telaten untuk berbuat apa saja yang dibutuhkan. Seorang pasien yang sabar akan sanggup mematuhi aturan-aturan kesehatan yang diberikan dokter. Berbagai obat yang diberikan ia sanggup meminumnya secara teratur sesuai aturannya. Jika diberikan terapi pun ia juga sanggup menjalaninya dengan telaten tanpa keluh kesah betatapun berat terapi itu.  

Sabar adalah salah satu terapi penyakit hati. Kata sabar mudah diucapkan namun aplikasinya dalam kehidupan butuh kesungguhan. Ketika seseorang yang mendapat musibah dapat  menghadapinya dengan ikhlas dan sabar, maka Allah akan menaikkan  keimanannya dan menyediakan pahala baginya menjadi salah satu keutamaan sabar. Allah SWT tidak akan pernah memberikan cobaan atau ujian yang berat di luar batas kemampuan umatNya. Maka dari itu, kita harus bersyukur ketika Allah memberikan ujian yang bertanda bahwa Allah masih menyayangi umatNya. Beberapa keutamaan sabar menurut Alquran.

1. Kesudahan yang baik
Allah SWT menjanjikan orang-orang yang sabar menuai kesudahan yang baik setelah melewati cobaan dan ujian yang diberikan. Janji Allah ini terdapat dalam surat Hud ayat 49 dan Ar-ra'd ayat 22.

"Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)," surat Ar-Ra'd ayat 22.

2. Keberuntungan

Allah SWT juga bakal memberikan keberuntungan bagi orang-orang yang sabar, sesuai dengan surat Ali Imran ayat 200.

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung," surat Ali Imran ayat 200.

3. Disukai Allah
Sesuai surat Ali Imran ayat 146, Allah SWT berfirman Allah menyukai orang-orang yang sabar.

Dalam surat Al-Anfal ayat 46 dan Al-Baqarah 249 disebutkan bahwa Allah SWT bersama orang-orang yang sabar.

4. Diberi petunjuk
Allah bakal memberikan kabar gembira, petunjuk, berkah, dan rahmat-Nya kepada orang-orang yang sabar. Hal ini sesuai dengan surat Al-Baqarah ayat 155-157.

"... Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk," surat Al-Baqarah ayat 155-157.






Post a Comment

0 Comments